Bijaksana Ilmu, Kuasa, dan Harta
Ketika kuliah saya sering nongkrong di
warnet kampus. Bahkan waktu saya lebih banyak berada di warnet ketimbang
berada di kelas untuk kuliah. Di warnet tersebut saya kenal dengan
penjaganya. Orangnya agak pendiam dan sederhana. Suatu ketika ada
seorang Profesor yang juga menjabat sebagai Dekan di fakultas tersebut
bermaksud mengirimkan sebuah email penting ke seseorang. Akan tetapi
Profesor tersebut kurang familiar dengan teknologi sehingga meminta sang
penjaga warnet untuk mengirimkan email tersebut. Bahkan menggunakan
email si penjaga warnet. Karena koneksi internetnya sangat lambat
(maklum zaman dulu tidak seperti sekarang) dan kapasitas filenya besar
maka email tersebut belum juga terkirim. Tak pelak hal tersebut membuat
sang Profesor naik pitam. Sehingga, sang penjaga warnet pun dimarahi
oleh Profesor. Dengan sabar penjaga warnet melayani Profesor tersebut
hingga emailnya pun dapat terkirim walapun dengan waktu yang tidak
sebentar.
ISLAM DAN PERUBAHAN ZAMAN
Noverdi Afrian*
Sebuah Konsekuensi Zaman
“Wahai Allah, kalau pasukan
(kaum Muslimin) ini sampai binasa hari ini, Engkau tidak akan disembah
lagi (oleh manusia). Wahai Allah, jika Engkau menghendaki, Engkau tidak
akan disembah lagi setelah ini.”3)
Rasulullah bersungguh-sungguh dalam
memohon, sehingga kain selendangnya jatuh dari pundaknya. Kain itu
kemudian disampirkan kembali oleh Abu Bakar ke pundak beli
MEMBANGUN PILAR ILMU DAN BUDAYA DALAM PERADABAN KITA
Noverdi Afrian*)
“Beranilah memikirkan dan mengucapkan pemikiran yang tidak mungkin!”
(Mochtar Lubis)
Euforia Semu Negeri Untaian Zamrud Khatulistiwa
Apa yang Anda pikirkan dengan nominal
uang sejumlah 1.900 Triliun Rupiah? Barangkali di antara kita ada yang
membayangkan uang senilai itu cukup untuk menyulap Stadion Utama
Semangat Hijrah,Semangat Perubahan
Eko Bambang Fitriyanto *
Masyarakat yang melakukan hijrah
terbukti mampu menciptakan peradaban yang gemilang contohnya hijrah Nabi
SAW dan para sahabat ke Madinah berhasil membangun sebuah komunitas
masyarakat Islam yang sekarang terkenal dg sebutan masyarakat
madani,hijrahnya suku-suku Aria setengah primitif ke selatan dan barat
telah melahirkan peradaban-peradaban Barat dan Timur yg lebih
besar,migrasi orang Samiyah ke wilayah dua sungai (eufrat dan
tigris),mesir dan afrika utara menyebabkan terbentuknya peradaban besar
di Samuria,Babilon dan Akadea. Sementara di barat migrasi ke
Amerika,Asia dan Afrika merupakan sebab utama munculnya renaissance dan
perubahan di eropa dan sekaligus merupakan faktor dasar bagi munculnya
peradaban barat modern.
Di Rumah Sendiri, Bahasa Indonesia Tidak Populer
“Kita belum memakai bahasa dengan sungguh-sungguh sehingga dalam penggunaannya bahasa Indonesia pun mengalami pendangkalan bahasa,” katanya seusai menghadiri acara Puncak Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia di kantor Badan Bahasa, Jakarta, Selasa (30/10/2012).
“Mengendur-Mengerut” Bahasa Kita
Minimal ada dua temuan penting bertalian dengan bahasa dan perkembangan sosial (bangsa) Indonesia. Saya menyebutnya fenomena mulur-mungkret (Bahasa Jawa: mengendur dan mengerut) Bahasa Indonesia. Pertama; kecenderungan untuk nginggris. Kedua, pemakaian Bahasa Indonesia dalam jejaring sosial (social media
Problematika Pelajar dalam hal Tawuran
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan M
Nuh serta Gubernur DKI Jakarta Fuazi Bowo bertekad mengakhiri tawuran
pelajar di Jakarta. Tekad ini disampaikan M Nuh saat jumpa pers di SMAN 6
Bulungan Jakarta Selatan, Selasa (25/9) pasca tewasnya Alawy Yusianto
Putra (15) pelajar SMA tersebut dalam peristiwa tawuran dengan pelajar
SMAN 70 Senin (24/9).
Sayangnya, ketika tekad tersebut masih
‘berusia’ satu hari, jatuh korban lain. Deni Januar (17) siswa kelas XII
SMA Yayasan Karya 66, Kampung Melayu, Jakarta Timur tewas terkena
sabetan senjata tajam pelajar SMK Kartika Zeni. Meninggalnya Deni Januar
menambah panjang daftar korban tewas pelajar akibat tawuran. Menurut
data Kompas (Rabu, 26/9) dalam jangka waktu setahun 13 pelajar di
Jabodetabek tewas menggenaskan akibat tawuran. Jika Deni dihitung dalam
setahun terakhir berarti korban tewas akibat tawuran di Jabodetabek
mencapai 14 orang. Satu jumlah yang sangat besar.
Siapa yang salah? Salah kita semua! Mengapa kita semua salah?














0 komentar:
Dí lo que piensas...